Kamis, 28 Maret 2013

Perniagaan yang Tidak Akan Merugi


Ustadz Abdullah Taslim. MA
Semua manusia sepakat, meskipun secara tidak tertulis, bahwa target mereka dalam setiap usaha yang mereka lakukan adalah meraih kesuksesan, mendapat untung dan terhindar dari kerugiaan.
Ironisnya, kebanyakan manusia hanya menerapkan hal ini dalam usaha dan urusan yang bersifat duniawi belaka, sedangkan untuk urusan akhirat mereka hanya merasa cukup dengan ‘hasil’ yang pas-pasan dan seadanya. Ini merupakan refleksi dari kuatnya dominasi hawa nafsu dan kecintaan terhadapa dunia dalam diri mereka.
Allah Ta’ala mengisyaratkan keadaan mayoritas manusia ini dalam firman-Nya,
يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ
Mereka hanya mengetahui yang lahir (nampak) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS. ar-Ruum: 7).
Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Arti (ayat ini): mayoritas manusia tidak memiliki ilmu pengetahuan kecuali dalam (perkara-perkara yang berkaitan dengan) dunia, keuntungan-keuntungannya, urusan-urusan dan semua hal yang berhubungan dengannya. Mereka sangat mahir dan pandai dalam usaha meraih (keberhasilan) dan cara-cara mengusahakan keuntungan duniawi, sedangkan untuk kemanfaatan (keberuntungan) di negeri akhirat mereka lalai (dan tidak paham sama sekali), seolah-seolah mereka seperti orang bodoh yang tidak punya akal dan pikiran (sama sekali).”[1]
Perniagaan Akhirat
Allah Ta’ala menamakan amalan-amalan shalih, lahir dan batin, yang disyariatkan-Nya untuk mencapai keridhaan-Nya dan meraih balasan kebaikan yang kekal di akhirat nanti sebagai “tijaarah” (perniagaan) dalam banyak ayat al-Qur’an.
Ini menunjukkan bahwa orang yang menyibukkan diri dengan hal tersebut berarti dia telah melakukan ‘perniagaan’ bersama Allah Ta’ala, sebagaimana orang yang mengambil bagian terbesar dari perniagaan tersebut maka dialah yang paling berpeluang mendapatkan keuntungan yang besar.
Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ. تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ. يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan-Nya dengan harta dan jiwamu, itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di surga ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar.” (QS. ash-Shaff: 10-12).
Imam asy-Syaukani rahimahullah berkata, “Allah Ta’ala menjadikan amalan-amalan (shalih) tersebut kedudukannya seperti ‘perniagaan’, karena orang-orang yang melakukannya akan meraih keuntungan (besar) sebagaimana mereka meraih keuntungan dalam perniagaan (duniawi), keuntungan (besar) itu adalah masuknya mereka ke dalam surga dan selamat dari (siksa) neraka.”[2]
Inilah ‘perniagaan’ yang paling agung, karena menghasilkan keuntungan yang paling besar dan kekal abadi selamanya, inilah ‘perniagaan’ yang dengannya akan diraih semua harapan kebaikan dan terhindar dari semua keburukan yang ditakutkan, inilah perniagaan yang jelas lebih mulia dan lebih besar keuntungannya daripada perdagangan duniawi yang dikejar oleh mayoritas manusia.[3]
Oleh karena itu, Allah Ta’ala menyifati ‘perniagaan’ mulia ini sebagai perniagaan yang pasti beruntung dan tidak akan merugi.
Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ. لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُمْ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ
Sesungguhnya, orang-orang yang selalu membaca kitab Allah (al-Qur’an), mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka, dengan diam-diam maupun terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Faathir: 30).
Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di rahimahullah berkata, “(Inilah) perniagaan yang tidak akan merugi dan binasa, bahkan (inilah) perniagaan yang paling agung, paling tinggi dan paling utama, (yaitu) perniagaan (untuk mencari) ridha Allah, meraih balasan pahala-Nya yang besar, serta keselamatan dari kemurkaan dan sisaan-Nya. Ini mereka (raih) dengan mengikhlaskan (niat mereka) dalam mengerjakan amal-amal (shalih) serta tidak mengharapkan tujuan-tujuan yang buruk dan rusak sedikitpun.”[4]
Barang Dagangan/ Perniagaan Allah Ta’ala Adalah Surga
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya barang dagangan Allah sangat mahal, dan ketahuilah bahwa barang dagangan Allah adalah surga.”[5]
Barang dagangan Allah Ta’ala yang mahal dan mulia ini harganya adalah amalan shalih dan berkorban di jalan-Nya, sebagaimana yang Allah Ta’ala isyaratkan dalam firman-Nya,
وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلا
Dan amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Rabb-mu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS. al-Kahfi: 46).
Juga dalam firman-Nya,
إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالإنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Sesungguhnya, Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga (sebagai balasan) untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. at-Taubah: 111) [6]
Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Allah Ta’ala mengabarkan (dalam ayat ini), bahwa Dia telah mengganti (membeli) dari hamba-hamba-Nya yang beriman jiwa dan harta mereka yang mereka curahkan di jalan-Nya dengan Surga (sebagai harganya). Ini merupakan (bagian) dari karunia, kebaikan dan kedermawanan-Nya, karena Dia menerima (untuk memberikan) ganti (harga) dari apa yang merupakan milik-Nya, dengan (ganti yang berupa) anugerah yang dilimpahkan-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang (selalu) taat kepada-Nya. Oleh karena itu, (Imam) Hasan al-Bashri rahimahullah dan Qatadah rahimahullah berkata (tetntang ayat ini), ‘Demi Allah, Dia telah berjual-beli dengan mereka, lalu Dia menjadikan sangat mahal harga (yang mereka terima, yaitu surga).’”[7]
Barang Dagangan yang Mahal Hanya untuk Pedagang dan Pembeli Kelas Tinggi
Barang dagangan Allah Ta’ala yang sangat mulia dan mahal ini, yaitu Surga, hanya pantas ‘diperdagangkan’ dan ‘dibeli’ oleh para pedagang dan pembeli ‘kelas tinggi’, yaitu mereka yang siap mencurahkan segenap kesungguhan dan perjuangan mereka, dengan jiwa, raga dan harta, untuk meraih kesempurnaan iman dan keridhaan Allah Ta’ala.
Merekalah orang-orang ‘kelas tinggi’ dalam arti yang sebenarnya, karena mereka siap berjuang dan mengorbankan segala yang mereka miliki untuk memenuhi ‘selera mereka yang tinggi’, yaitu selera untuk mendapatkan balasan yang tinggi, yaitu Surga.
Bukankah Allah Ta’ala menyifati Surga dalam al-Qur’an dengan firman-Nya,
فِي جَنَّةٍ عَالِيَةٍ
Di dalam Surga yang sangat tinggi.” (QS. al-Ghaasyiah: 10).
Demikian juga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyifati Surga Firdaus dalam sabda beliau, “Jika kalian memohon (Surga) kepada Allah, maka mintalah (Surga Firdaus), itulah Surga yang paling di tengah dan paling tinggi, dan atapnya adalah Arsy (Allah Ta’ala) Yang Maha Pemurah.”[8]
Bukankah dengan ini mereka pantas disebut sebagai orang-orang yang memiliki ‘selera tinggi’?
Sebagaimana orang-orang yang menjadikan dunia sebagai target utama dalam hidup mereka, pantas disebut sebagai orang-orang yang memiliki ‘selera rendah’ sesuai dengan kerendahan dan kehinaan dunia itu sendiri.
Imam ‘Abdur Rauf al-Munawi rahimahullah berkata, “Dunia itu dinamakan ‘dunia’ (secara bahasa berarti yang rendah/ dekat), karena kedekatannya (cepat berakhirnya) dan kerendahannya (kehinaannya).”[9]
Oleh karena itu, Allah Ta’ala menyebutkan sifat utama yang ada pada penghuni Neraka yaitu selalu memprioritaskan kehidupan dunia yang rendah.
Allah Ta’ala berfirman,
فَأَمَّا مَنْ طَغَى وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا فَإِنَّ الْجَحِيمَ هِيَ الْمَأْوَى، وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى
Adapun orang-orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabb-nya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (QS. An-Naazi’aat: 37-41).
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berlindung kepada Allah Ta’ala dari ‘selera yang rendah’ ini, sebagaimana dalam doa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,
ولا تَجْعَلِ الدُّنْيا أَكْبَرَ هَمِِّنا ولا مَبْلَغَ عِلْمِنَا
(Ya Allah) janganlah Engkau jadikan dunia (harta dan kedudukan [10] sebagai target utama kami dan puncak dari pengetahuan kami.”[11]
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang bercita-cita untuk (meraih) perkara-perkara yang tinggi, maka wajib baginya untuk menekan kuat kecintaan kepada perkara-perkara yang rendah (dunia).” [12]
Sikap inilah yang ditunjukkan oleh shahabat yang mulia, Shuhaib bin Sinan radhiallahu ‘anhu, ketika beliau berhijrah dari Mekkah ke Madinah, yang untuk itu beliau harus menyerahkan harta dan emas berlimpah yang beliau miliki kepada orang-orang kafir Quraisy, agar mereka tidak menghalangi hijrah beliau ke Madinah. Sehingga ketika beliau telah sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah mengetahui kejadian tersebut berdasarkan berita dari Malaikat Jibril ’alaihis salam, waktu itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan kabar gembira kepadanya dengan bersabda, “Wahai Abu Yahya, (sungguh) telah beruntung perniagaanmu”, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkannya sebanyak tiga kali.[13]
Kemuliaan dan Keutamaan dari Allah Ta’ala Sesuai dengan Kesungguhan Manusia
Allah Ta’ala berfirman,
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
Dan orang-orang yang berjuang dengan sungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami berikan hidayah kepada mereka (dalam menempuh) jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. al- ‘Ankabuut: 69).
Imam Ibnu Qayyim rahimahullah ketika mengomentari ayat di atas, beliau berkata, “(Dalam ayat ini), Allah Ta’ala menggandengkan hidayah (dari-Nya) dengan perjuangan dan kesungguhan (manusia), maka orang yang paling sempurna (mendapatkan) hidayah (dari Allah Ta’ala) adalah orang yang paling besar perjuangan dan kesungguhannya.”[14]
Tidak terkecuali dalam hal ini, untuk meraih keuntungan besar dalam perdagangan akhirat tentu sangat dibutuhkan perjuangan dan kesungguhan. Kesungguhan dalam memahami petunjuk Allah Ta’ala dan mengamalkannya untuk mencapai ridha-Nya. Inilah jalan untuk mencapai keuntungan yang tinggi dan mulia dalam perdagangan akhirat, yaitu surga yang penuh dengan berbagai macam kenikmatan besar yang “belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga dan belum pernah terlintas dalam benak manusia.”[15]
Seorang penyair mengungkapkan hal ini dalam bait syairnya,
Maka katakanlah kepada mereka yang mengharapkan perkara-perkara (balasan) yang tinggi
Tanpa kesungguhan/perjuangan (berarti) kamu mengharapkan sesuatu yang mustahil (kamu dapatkan)
Inilah makna yang diisyaratkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Orang yang berjihad/ berjuang dengan sungguh-sungguh (yang sebenarnya) –dalam riwayat lain: jihad/ perjuangan yang paling utama– adalah orang yang berjuang dengan sungguh-sungguh untuk menundukkan hawa nafsunya di jalan Allah Ta’ala –dalam riwayat lain: dalam ketaatan kepada Allah –.”[16]
Nasihat dan Penutup
Inilah perniagaan akhirat dan perniagaan dunia, dan inilah perbandingan antara keduanya, manakah yang akan anda pilih?
Allah Ta’ala berfirman,
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاها قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا
Dan (demi) jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaan, Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu (dengan ketakwaan), dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya (dengan kefasikan).”  (QS. asy-Syams: 7-10).
Kehidupan dunia yang kita jalani, hakekatnya adalah pertaruhan diri kita untuk membawanya kepada jalan kebaikan atau kebinasaan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap manusia menjalankan (kehidupannya) dan menjual (mempertaruhkan) dirinya, maka (ada orang) yang membebaskan (menyelamatkan) dirinya dan (ada pula) yang membinasakannya.[17]
Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Makna hadits ini adalah setiap manusia mengusahakan (mempertaruhkan) dirinya, di antara mereka ada yang menjualnya untuk Allah Ta’ala dengan (menetapi) ketaatan kepada-Nya, maka dialah yang membebaskan (menyelamatkan) dirinya dari siksa (neraka yang sangat pedih), dan di antara mereka ada yang menjualnya untuk syaitan dan hawa nafsunya dengan menuruti (ajakan) keduanya, maka dialah yang membinasakan dirinya.”[18]
Semoga Allah Ta’ala menjadikan tulisan ini bermanfaat untuk memotivasi kita agar semangat dan bersungguh-sungguh mengejar keuntungan mulia dalam perdagangan akhirat yang tidak akan merugi.
Dan semoga Dia senantiasa memudahkan taufik-Nya bagi kita untuk meraih keridhaan-Nya dan semua kedudukan yang mulia dalam agama-Nya, sesungguhnya Dia Maha Dekat, Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.
وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين
Kota Kendari, 8 Muharram 1431 H
Abdullah bin Taslim al-Buthoni
Catatan Kaki:
Catatan Kaki:

[1] Kitab Tafsir Ibnu Katsir, 3/560
[2] Kitab Fathul Qadiir, 5/311
[3] Lihat kitab Tafsir Ibnu Katsir, 4/463
[4] Kitab Taisiirul Kariimir Rahmaan, hal. 689
[5] HR. at-Tirmidzi (no. 2450) dan al-Hakim (4/343), dinyatakan shahih oleh Imam al-Hakim dan disepakati oleh Imam adz-Dzahabi, serta dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Ash-Shahiihah, no. 954 dan 2335
[6] Lihat kitab Tauhfatul Ahwadzi, 7/124 dan Fathul Qadiir, 6/123
[7] Kitab Tafsir Ibnu Katsir, 2/515
[8] HSR. Bukhari, no. 2637 dan 6987
[9] Kitab Faidhul Qadiir, 3/544
[10] lihat kitab Tuhfatul Ahwadzi, 9/334
[11] HR. Tirmidzi (no. 3502), dinyatakan hasan oleh Imam at-Tirmidzi rahimahullah dan Syaikh al-Albani rahimahullah
[12] Kitab Miftaahu Daaris Sa’aadah, 1/108
[13] HR. Hakim (8/31) dan ath-Thabrani dalam Al-Mu’jamul Kabir, no. 7296, dinyatakan shahih oleh Imam al-Hakim dan disepakati oleh Imam adz-Dzahabi rahimahullah
[14] Kitab Al-Fawa-id, hal. 59
[15] Sebagaimana dalam hadits qudsi riwayat Imam al-Bukhari, no. 4501 dan Muslim, no. 2824
[16] HR. at-Tirmidzi (no. 1621), Ahmad (6/21,22), Ibnu Hibban (no. 4862), dinyatakan shahih oleh Imam At-Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Syaikh al-Albani rahimahumullah
[17] HSR. Muslim, no. 223
[18] Kitab Syarhu Shahiihi Muslim, 3/102
==========================================
Silakan download ebook ini pada link berikut:Download Ebook:: Perniagaan yang Tidak Pernah Merugi


Rabu, 27 Maret 2013

Foto Seminar Orisa 2013

KCP PANCOR Bank Syaria'ah Mandiri


SEMINAR ORISA 2013

Peserta Seminar ORISA 2013. Ketua Panitia dan Koordinator SDI, Pak DEKAN, Pembicara Pak Irwan, MP


Sambutan Ketua Umum FoKEI FE UNRAM. Misbahruddin


 Ketua Umum Fokei Misbahruddin menyampaikan bahwa NTB merupakan salah satu daerah dengan mayoritas penduduknya adalah muslim, karena itu sudah sangat layak NTB menjadi daerah pelopor pengembangan ekonomi islam di Indonesia. Hal ini bukan bukan merupakan impian yang mustahil, karena potensi itu sangat besar didaerah ini diantaranya yaitu : 1). jumlah penduduk muslim yang besar menjadi potensi nasabah industri keuangan syari'ah 2) sumber daya alam yang melimpaah yang dapat dijadikan underlyng. dan lain-lain. 
      Secara Nasional selama 5 (lima) tahun terakhir ini, perbankan syari'ah mengalami peningkatan yanag sangat pesat keseluruhan asetnya mencapai Rp. 144 triliun, dengan rata-rata pertumbuhan mencapai lebih dari 40 %.

     perkembangan tersebut cukup menggembirakan sekaligus merupakan tantangan. mengembirakan karena sistem ekonomi syari'ah yang sebenarnya mempunyai bentuk keunggulan antara lain karena menganut asas keseimbangan yang adil, mulai dikenal dan mendapat perhatian bukan saja pada tataran konseptual tetapi juga sudah masuk pada tataran operasional 
     Ditengah pekembangan industri perbankan syari'ah yang pesat tersebut, perlu disadari masih banyak beberapa tantangan yang harus diselesaikan agar perbankan syari'ah dapat meningkatkan kualitas pertumbuhannya dan mempertahankan akselarasinya secara berkesinambungn. 

   Berdasarkan hal-hal yang terdapat dalam tataran masyrakat atau problem-problem  maka kami dari Forum Kajian Ekonomi Islam (FoKEI) Fakultas Ekonomi Universitas Mataram, merasa berkewajiban untuk ikut serta memberikan edukasi kepada masyarakat tentang ekonomi syari'ah ini, maka kami mencoba menggagas kegiatan yang kiranya dapat dijadikan sebagai mediator untuk memberikan edukasi sekaligus sosialisasi kepada masyarakat tentang ekonomi syariah. dengan tema "MEMBANGUN PEREKONOMIAN SYARIAH DARI NTB UNTUK INDONESIA"

   Hadirin yang saya hormati ketahuilah bahwa ekonomi islam itu tidak akan bumi di NTB khususnya umumnya indonesia tanpa memulai dari diri kita masing. baru lkita mencoba merubah perekonomian yang di anut oleh keluarga kita. 
   dan ketahuilah hadirin sekalian jika kita ingin menjadikan NTB ini menjadi Daerah yabg robbani maka salah satunya adalah memulai dari keluraga yang Robbani. jika kelurga Robbani sudah terbentuk baru masyarakat dan Daerah itu akan terbentuk. maka dari itu perbaiki keluargamu, dan untuk generasi muda mulailah memperbaiki dirimu agar kiranya kita semua melahirkan buah yang baik juga. 


   Sekian. 
Wassalamualaikum War.Wab. 
 
        







PEMENANG OLIMPIADE EKONOMI ISLAM

1. JUARA I 
   SMAN 1 MATARAM
       TIM B
    1. M. FEBRI AZMI
    2. AINAN SALSABILA
    3. METI PUSPA SYABANI
2. JUARA II

    MAN SELONG
    TIM B
    1. ROZA MUSTAFA A
    2. NURHIDAYATUR ROHMI
    3. RIAN HAFIZATORRO'YI

3.JURA III
   SMAN 1 MATARAM
   TIM A
    1. AMMAR BIMANTARA M
    2. IRISCHA PRAMESTI A
    3. NOVA ULYANA O

Kamis, 21 Maret 2013

PESERTA OLIMPIADE EKONOMI ISLAM

1. SMAN 1 PRAYA BARAT 
    TIM 
    1. PUTRI DESI RAHAYU
    2. HALIMAH
    3. LINDA MESARAH
2. MA ADDINUL QAYYIM 
    TIM A
    1. MARTIN ULFA
    2. ZEMA JULIANA AULAN
    3. TUTIK ALAWIYAH
    TIM B 
   1. DEWI YULIANTI
   2. M. AJI KURNIAWAN
   3. NURHAENI
3. SMKN 1 MATARAM 
    TIM
  1. AGUS SUMANTRA
  2. FIRDI KHARISMA R
  3. DEVILIA NANDA CIZZA
4. SMAN 2 MATARAM 
    TIM 
  1. WAHYU HIDAYAT
  2. BQ. NANDA DEWI S
  3. NURUL AUDIA W
5. SMAN 7 MATARAM
    TIM
    1. YUNITA BALQIS
    2. ELIANA KURNIA
    3. SINAR MIRANDA
6. SMAN 1 MATARAM
    TIM A
    1. AMMAR BIMANTARA M
    2. IRISCHA PRAMESTI A
    3. NOVA ULYANA O
    TIM B
    1. M. FEBRI AZMI
    2. AINAN SALSABILA
    3. METI PUSPA SYABANI
7. SMKN 2 MATARAM
    TIM A
    1. LINDA APLIANINGSIH
    2. LAELA HARDIANI
    3. FITRIANI
    TIM B
    1. ROSMA YULIANA
    2. M. AJI KURNIAWAN
    3. NURHAENI
8. MAN SELONG
    TIM A
    1. AKHMAD ALFIAN R
    2. M. SADRUDIN MASIH
    3. DARIHAN MUBARAK
    TIM B
    1. ROZA MUSTAFA A
    2. NURHIDAYATUR ROHMI
    3. RIAN HAFIZATORRO'YI


Jumlah keseluruhan TIM Olimpiade Ekonomi Islam adalah sebanyak 12 Tim. tim yang sudah terdaftar ini akan diseleksi pada hari Jum'at Tanggal 22 Maret 2013 di Ruang Sidang Fakultas Ekonomi UNRAM dan akan diambil 5 besar finalis yang akan memasuki babak final.

                                                     Panitia ORISA 2013
Ketua Panitia                                                                                       Ketua Umum
      ORISA                                                                                      FoKEI FE UNRAM



ISRORUDIN                                                                                 MISBAHRUDDIN